Rabu, 28 Desember 2011

As You Think so You Are, You Will When You Believe

Perjalanan panjang dalam hidup kita ini adalah menuju sebuah kerelaan. Waktu yang kita miliki tidaklah semata-mata untuk sebuah kepuasan. Hidup yang terus bergulir antara keberhasilan dan kegagalan. Semuanya berujung pada kerelaan kita dengan Allah SWT. Ketika kegagalan mendera bukan untuk terpuruk terlalu dalam, akan tetapi terus berjuang untuk bangkit dengan semangat, keikhlasan, kerelaan dan keyakinan bahwa apa yang Allah SWT berikan kepada kita adalah jalan terbaik yang Dia berikan untuk kita. Karena Allah tidak akan membiarkan hambaNya menderita. “Allah tidak akan membebani suatu kaum, melebihi kemampuannya” ayat yang begitu luar biasa, Allah SWT memahami benar bagaimana keadaan hambaNya. Seberapa kuat ia mampu menghadapi cobaan dan ujian yang diberikan.
Dan ketika suatu kegagalan itu mendera dengan begitu hebatnya, yang perlu dipahami adalah betapa Allah SWT menyayangi kita, dalam rangka meningkatkan derajat iman kita kepada Allah SWT. Keyakinan kepada Allah SWT-lah yang akan menghantarkan kita kepada sebuah keberhasilan. Ada pepatah mengatakan “Kekuatan keyakinan akan menbuat manusia memiliki daya yang lebih”. Benar, ketika kita meyakini bahwa semua yang kita lakukan adalah semata-mata untuk Allah SWT dan hasil yang kita dapatkan adalah jalan terbaik yang Allah SWT berikan kepada kita semua, maka kita akan memiliki daya yang lebih untuk mencapai apa yang kita dan Allah inginkan. Sungguh, Maha Dahsyat, yang Maha membolak balikkan hati setiap insan. Keyakinan kepada Allah tidak akan menjadi sebuah kekuatan tanpa adanya kedekatan denganNya. KebesaranNya yang mampu mengubah semuanya.
Kekuatan keyakinan menghantarkan kita pada keberhasilan. Kekuatan keyakinan itu dimana kita yakin akan Allah, menyerahkan semua kepada Allah dengan ikhtiar terbaik dan merelakan semuanya dengan Allah SWT. Keyakinan bahwa kita mampu melakukan yang terbaik dan mendapatkan apa yang telah kita usahakan bukan mendapatkan apa yang kita inginkan. Karena Allah SWT sesuai dengan prasangka hambaNya. Memahami tentang hakikat rela dengan Allah dan rela kepada Allah yang nantinya aan menghantarkan kita pada manusia yang ikhlas. Rela dengan Allah artinya hati kita rela menerima eksistensi, keberadaan, kuasa Allah dan segala konsekuensi atas kerelaan itu. Sedangkan rela kepada Allah yaitu kerelaan kita untuk menerima apa yang diberikan Allah kepada kita, rela menerima ketetapan-ketetapan Allah. Rela dan ikhlas terhadap apapun yang Allah berikan kepada kita, baik itu kegagalan maupun keberhasilan.
Banyak kisah tentang kekuatan keyakinan kepada Allah SWT, salah satunya saya sendiri yang mengalami hal tersebut, betapa kekuatan keyakinan memiliki dampak yang dahsyat. Sebuah keyakinan, ketika saya mengikuti sebuah perlombaan yang membutuhkan keyakinan yang kuat, dan saat itulah saya diuji. Saat saya merasa menjadi orang yang tidak pantas berada dalam kompetisi tersebut, saat saya merasa menjadi orang yang saat bodoh, lemah dan tak berdaya. Dengan ikhtiar terbaik, dan dengan azam yang kuat, saya diingatkan bahwa saya memiliki Dzat yang Maha kuat, Dzat yang Maha dahsyat. Saya yakin Allah-lah yang akan menolong hambaNya yang lemah, Allah-lah yang akan menjadikan hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin.
Saya kemudian bertekad dan berazam dalam hati, bahwa Allah-lah yang berkuasa atas semua ini. Ketika saya meyakini saya bisa, maka itu-lah yang akan terjadi, begitu pula ketika meyakini tidak bisa, maka itu pula-lah yang akan terjadi. Saya yakin ada Allah SWT yang senantiasa ada untuk hambaNya, memberikan karunia tanpa diminta oleh hambaNya sekalipun. Dan ketika itu saya memiliki keyakinan yang kuat, bahwa saya BISA. Dan itulah yang terjadi, saya yang secara tampak mata adalah orang yang tidak lebih dari mereka yang lain. Tapi dengan keterbatasan itu menjadikan saya yang teratas, dengan bekal kekuatan keyakinan dan ikhtiar terbaik kepada Allah SWT.
Adakalanya memang suatu ketidakyakinan dan kegagalan itu memang diperlukan, untuk membangkitkan semangat dan keyakinan akan kemampuan yang kita miliki, akan tetapi sesuai dengan porsi masing-masing. Berbekal keyakinan kepada Allah, kerelaan dengan Allah dan iktiar terbaiklah merupakan perpaduan kunci untuk mencapai sebuah kesuksesan. Karena Allah ta’ala.
Wallahu ‘alam bishowab

Rabu, 21 Desember 2011

ANDILAU (Antara Dilema dan Galau)

Barangkali ada Awards tentang The Most Cengeng One, mungkin saya termasuk didalamnya. Tapi cengeng disini bukan cengeng yang manja atau apa, semoga saja cengeng ini karena memikirkanNya.

Maha Besar Allah, saat ini sedang dilema. ANDILAU (Antara Dilema dan Galau). Dua tawaran sekaligus meluncur kehadapan saya, yang keduannya amat sangat saya cintai. Saya dibesarkan di lingkungan keduannya. Berat rasanya ketika harus memilih satu. Tapi memang harus diputuskan, segetir apapun memang harus ada yang dikorbankan. Semoga dalam rangka menuju kebaikan.

Menghadap dan mengadu pada Allah. Bukan kita ingin menjadi apa, tetapi Allah menginginkan kita menjadi apa. Saya hanya ingin merasakan keindahan cinta dalam kebermanfaatan kepada sesama. Melalui jalan apapun, yang diridhoi Allah. Melihat keterbutuhan dan mengharap ridhoNya, itulah yang saya inginkan.

Berbagai pertimbangan saya mintai, kepada Sang Murabbi, Komandan, Kakak-kakak tercinta dan kawan-kawan terdekat saya. Entahlah, berbagai pemikiran itu memperumit pemikiran saya. Semuanya mengacu pada bidang masing-masing. Hanya beberapa yang mampu membuat saya menerima dengan logika. Tapi, kata kawan saya: "Terkadang pertimbangan-pertimbangan yang kita fikirkan menjadi tak berarti dengan mengikuti kata hati" Yah, begitulah hati. Ia yang merajai semua anggota tubuh ini.

Ya Allah, hamba hanya ingin menyerahkan segala urusanku kepadaMu. MelibatkanMu dalam setiap keputusan-keputusan yang ku ambil. Segalanya akan berujung pada sebuah kerelaan. Mudahkanlah ya Allah..,

Ihdinashshirathal mustaqim...

Rabu, 14 Desember 2011

Berbaik sangka

Setiap manusia pasti punya kesibukan masing-masing. Entah itu penting mendesak ataupun tidak penting dan tidak mendesak. Apapun pilihannya hanya bisa berbaik sangka, barangkali kawan-kawan yang sedang tidak "disini" sedang ada kepentingan umat, sedang memperjuangkan agama Allah, sedang merajut kalam ILLAHI, sedang membantu orang-orang yang membutuhkan...

Hanya bisa berbaik sangka. Semoga kita semua dimudahkan urusannya, dilancarkan pekerjaannya, diridhoi setiap jejak langkahnya.

Hanya Allah yang Maha Tahu segaka isi hati hambaNya.

Katakan LILLAH, bukan Lelah

Kemarin diri ini terkapar lemah, terisak tangis yang mendalam. Tak ada kata yang terucap melainkan.. LILLAH. Hanyab Allah yang mengerti apa yang terjadi dalam diri ini..

Mungkin sedang banyak pikiran, mungkin sedang kelelahan. Tensi darah turun 90/65. Biasanya biasa-biasa ajah, tapi kali ini, kepala semakin berat. Kata temen saya, sibuk mikir negoro.. haha.

Entahlah, mungkin ya mungkin tidak. Tapi memang ada perasaan tertekan atau apalah, yang pasti kemungkinan terbesar adalah karena saya KURANG BERSYUKUR padaNYA. Barangkali saya terlalu sibuk memikirkan dunia tanpa memikirkan akhirat. Astaghfirullah..

Semoga keikhlasan dan kesabaran senantiasa ada di dalam diri ini.. Ihdinashshirathal mustaqiim..
Fastaqim!!

Selasa, 06 Desember 2011

Potret Pemimpin (Indonesia)


Salah satu cerminan kepemimpinan di Indonesia, yaitu kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dapat dilihat dan dianalisis bersama bahwa lemahnya kepemimpinan SBY membawa dampak yang kompleks bagi rakyat Indonesia. Berdasarkan depth interview yang dikembangkan, setidaknya terdapat empat persoalan penting yang dapat dianalisis, diantaranya:

Pertama, Banyak kasus yang tak tuntas selama era kepemimpinan SBY. Komunitas Hak Asasi Manusia memiliki kasus pembunuhan Munir; Komunitas politik memiliki kasus Bail-Out Bank Century; Komunitas pro keberagaman agama dan pluralisme memiliki kasus kekerasan atas Ahmadiyah; dan Komunitas anti korupsi memiliki kasus Nazarudin. Dari keempat kasus tersebut, tidak satupun kasus yang berhasil diselesaikan oleh SBY, meskipun telah berjanji akan menuntaskannya.

Kedua, SBY dipandang reaktif dan terlalu sering “curhat” untuk kasus yang menurut publik sepele. Sebagai contoh, SBY dinilai publik terlalu reaktif dalam merespon pesan pendek SMS yang memojokkan dirinya. Publik juga kecewa atas berbagai “curhat” yang dilontarkan oleh SBY, seperti curhat gaji Presiden SBY yang tidak naik selama 7 tahun dan curhat soal dirinya yang direpresentasikan sebagai Kerbau dalam sebuah aksi demo. Padahal idealnya, publik lah yang seharusnya menyampaikan “curhat” kepada presiden.

Ketiga, SBY tidak memiliki operator politik yang kuat. Dari 4 operator presiden (Wakil presiden, Partai Demokrat, Kabinet, dan Setgab Partai), tidak satupun yang mampu membantu presiden secara optimal. Wakil Presiden Boediono bukanlah tipe orang yang berani mengambil inisiatif dalam hal kebijakan. Berbeda dengan Jusuf Kalla yang dipandang sebagai wakil Presiden dengan tipe pendobrak, lincah dalam mengambil peran untuk membantu presiden; Menteri pun tidak mampu melakukan kerjanya secara baik, akibatnya adalah Presiden SBY dipandang gagal dalam mengarahkan para pembantunya; Partai Demokrat juga tidak memiliki kekuatan. Itu dikarenakan ketua umum Partai Demokrat tidak memiliki kewenangan sebesar ketua umum partai-partai lain; Setgab koalisi partai pun sama, tidak solid dan padu dalam mengoperasikan kebijakan SBY. Karena masing-masing partai memiliki kepentingan politik yang berbeda.

Keempat, SBY dinilai tidak berdaya dalam menangani kasus Nazarudin (mantan bendahara umum dan anggota DPR dari partainya sendiri). Terus dibiarkannya kasus Nazarudin bergulir tanda adanya penyelesaian hukum, publik akan menilai SBY telah keluar dari jalur perjuangannya sebagai presiden yang berani mengatakan tidak pada korupsi.

Berdasarkan uraian diatas, hal tersebut bukanlah untuk menghakimi beberapa pihak, akan tetapi merupakan salah satu upaya untuk menjadikan bangsa Indonesia mewujudkan cita-citanya sesuai yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Selain itu, dapat dijadikan bahan renungan bahwa Indonesia kini membutuhkan ksatria-ksatria yang siap membela dan memperjuangkan Indonesia menuju kejayaan. Dari sinilah kemudian tergambar bahwasanya sebagai seorang pemuda/mahasiswa yang sering disebut kaum intelektual muda kampus memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengkontribusikan pemikiran–pemikiran kritis dan ideal untuk membuka ruang pemikiran baru yang lebih visioner guna membangun kondisi bangsa yang lebih baik kedepannya, yang salah satunya adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa melihat seperti apa sosok kepemimpinan yang diperlukan bangsa Indonesia kedepannya, karena setiap kepemimpinan akan memiliki sejarahnya masing-masing dan hal ini sejalan dengan suatu pernyataan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang hebat, tangguh dan memiliki karakter yang kuat untuk mengejar cita-cita pembanguan ditengah segala problematika yang harus dihadapinya dengan visi dan sistem yang kuat.

Jabatan.. Oh.. Jabatan (Innalillahi wa inna ilahi rajiun)

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.”

Sedikit menusuk memang, tapi yah begitulah kenyataannya. Sekarang sedang dalam masa perebutan kekuasaan dan tergila-gila pada jabatan.. Entah apa yang "mereka" pikirkan tentang itu. Yang pasti saya meyakini bahwa hal ini hanya untuk kepentingan duniawi saja.

Hey, bukan maksud apa-apa, cuma ingat kata-kata Bapak saya "Kuliah jangan nyari nang-nangan (mencari kekuasaan untuk kemenangan)" Yah, kira-kira begitu. Jabatan dan kekuasaan hanyalah sarana semata untuk meraih ridhoNya. Kata Pak ustadz begitu kira-kira.. Whatever lah.. Semoga Kita tidak tergolong orang yang gila akan kekuasaan. Amin. :P

Hikmah dibalik adanya larangan meminta dan ambisius mengejar jabatan, antara lain mencegah timbulnya persaingan tidak sehat dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jabatan adalah amanah dan kepercayaan orang banyak.
Pada dasarnya yang menilai kualitas diri dan pekerjaan seseorang bukanlah diri sendiri, tapi orang lain.

Ups,. semoga bisa menyindir bagi orang-orang yang tersindir..:) hehe

Minggu, 04 Desember 2011

Anak Autis itu bernama Rakan

Sabtu, 3 Desember 2011.
Agenda pembinaan pekanan Etoser 2009 kali ini mengunjungi SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri Semarang yang berlokasi di Meteseh. SLB N Semarang ini berdiri sejak tahun 2006 hingga saat ini muridnya mencapai 500 anak. Mulai dari penyandang Tuna Wicara, Tuna netra, TUna Graita, Down Syndrom, Autis dan sebagainya.

Sungguh luar biasa, hati ini menangis ketika melihat kondisi psikis mereka. Akan tetapi ada hal luar biasa dibalik keterbatasannya. Memang sungguh Allah Maha Besar. Mereka diciptakan dengan keterbatasan, dan juga dengan kelebihannya.

Setelah mengitari seluruh kompleks SLB N Semarang, tibalah kami rombongan menuju ruangan Musik. Disana kami menemui anak yang menderita Down Syndrom sedang berlatih nyanyi dan memainkan musik, inilah salah satu kelebihannya. Saat itu, Dea, nama anak Down Syndrom itu, ia mengajak kami bernyanyi bersama, dengan keterbatasannya. Kami pun bernyanyi dengan iringan drum-nya.

Disudut ruangan, aku perhatikan ada seorang anak memakai "kupluk" putih sedang duduk sambil memegangi telinganya. Perhatianku beralih padanya. Ternyata ia sedang terapi, ia menderita Autis. Autis merupakan... Sulit bersosialisasi dengan anak-anak lainnya, Lebih suka menyendiri; sifatnya agak menjauhkan diri. Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan. Kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya; suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan
daripada kata-kata

Ia berfokus pada telinganya, tidak suka dengan suara keras. Dan ia sedang diterapi dengan alat musik, gendang. Perlahan aku mendekatinya, menanyakan sedikit tentangnya kepada pembimbingnya yang ada dihadapannya. Ia bisa menyanyikan lagu "Satu-satu". Ia sangat tertutup dengan orang lain "asosial". Begitulah, memilukan.

Perlahan saya mengambil gendang didekatnya, dan mulai menyanyikan lagu "satu-satu". Ia memperhatikanku. Lalu. aku mengajak ia berkenalan, hanya menjabat tangan. Sedikit berbincang tanpa respon, hanya senyuman. Ternyata, mengejutkan, ia mau menirukan gerakan tanganku memukul gendang dan bernyanyi. "satu satu aku sayang ibu.. dua-dua aku sayang ayah.." terbata-bata. Aku amat senang. :)

Pembimbingnya sedikit menjelaskan keadaannya kepadaku. Beliau bilang saya mendapat respon Rakan, pendekatan emosional dan intrapersonal ku kepada Rakan cukup baik. Jarang ada. Ya.. Begitulah anak Autis.

Sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa, dipertemukan dengan Ciptaan Sang Khalik Yang MAha Dahsyat. Disekitar kita, masih banyak orang dengan segala keterbatasaannya, akan tetapi mampu melawan keterbatasan itu, untuk kemudian BANGKIT. Sekarang mari kita tengok diri kita dengan segenap raga dan jiwa kita, mungkin tiada yang kurang, akan tetapi apa yang sudah kita lakukan hingga umur sekian ini?

Mari melakukan hal-hal baik dengan cara-cara yang baik sebagai wujud syukur kita kepada Sang Khalik.

Senin, 21 November 2011

Mencari Ksatria Indonesia



....Beberapa abad yang lalu, sebuah kerajaan besar yang merajai Pulau Jawa, Majapahit. Terkenal dengan raja Hayam Wuruk yang membawa Mahapahit pada puncak kejayaan, dengan Patih Gajah Mada yang sangat disegani. Lalu, sekarang kemanakah kerajaan besar itu? Kini tinggal sejarah yang terukir, sejarah yang tak pasti kebenarannya. Majapahit kini tinggal nama...

Menilik dari ilustrasi cerita diatas, dengan jelas dapat kita saksikan dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang besar yang kaya akan beraneka ragam sumber daya alamnya dan memiliki jumlah penduduk yang begitu besar di dunia, Indonesia belum bisa kita katakan telah berhasil menjadi negara yang mampu memberi perlindungan kepada segenap warganegaranya, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana yang diamatkan dan tercantum dalam bagian alinia terakhir pembukaan UUD NRI 1945 sebagai suatu konstitusi tertinggi di negara ini. Hal ini tercermin lebih nyata jika kita melihat kembali lebih dalam kondisi kekinian negeri ini yang hampir disemua sektor kehidupan terdapat problematika berat yang dihadapi yang membuat cita-cita ideal pembangunan bangsa ini semakin jauh dari harapan rakyatnya sendiri, Setiap ruang vital yang seharusnya digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan rakyatnya hari ini tengah menjadi perebutan pihak-pihak yang berkepentingan yang penuh dengan nuansa politis,pragmatis,dan jauh dari yang namanya “berkeadilan”.
Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya sistem yang  malah mendukung pelaksanaan praktek-praktek kecurangan baik berupa tindak korupsi kolusi nepotisme pungli mafia dan lain semakin menguasai negeri yang pernah besar ini, hal ini mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan kalangan penguasa semakin hari semakin terdegradasi dengan kondisi bangsa dapat dikatakan jauh dari prestasi positif dan kaya akan problematika negatif yang jelas-jelas tidak akan pernah menguntungkan dan berpihak kepada rakyat. Melihat kondisi seperti ini, bisa jadi Indonesia bernasib sama dengan Kerajaan Majapahit yang kini tinggal nama. Bisa jadi Indonesia kelak hanya menjadi sejarah, bahwa beberapa abad lalu terdapat sebuah negara yang bernama Indonesia.
Paparan diatas merupakan pemantik, harus disadari bahwa Indonesia membutuhkan para pahlawan dan ksatria yang akan terus memperjuangkan Indonesia menuju puncak kejayaannya. Selain itu, hal-hal tersebut yang kemudian membuat kita semakin tersadar bahwasanya terdapat suatu permasalahan yang begitu komplek dan nyata yang  begitu rentan kepentingan yang sedang dihadapi di negeri ini, jika kita berbicara lebih kritis terkait kondisi ini bahkan disetiap sub kehidupan hari ini masih banyak menyisakan suatu permasalahan yang harus segera dihadapi dan diselesaikan untuk membangun kondisi bangsa yang lebih baik kedepannya, ironis terasa saat hal ini sudah menjadi konsumsi sehari-hari kita sebagaimana yang selalu ditayangkan dan diberitakan rutin di media-media massa dan televisi bahwa kita hari ini ada ditengah permasalahan yang begitu komplek disetiap sektor baik itu: ekonomi, sosial, budaya, pangan, penegakan hukum, politik, pertahanan dan keamanan secara bergantian tetapi belum mampu memberikan suatu alternatif solusi yang sedikit banyak dapat memberi kontribusi terhadap bangsa kedepan.
Seorang pemimpin bukanlah ia yang memiliki jiwa-jiwa pengatur, pesuruh dan juga penikmat kekuasaan semata. Kini Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan dan keteladanan yang saat ini sangat dibutuhkan bagi Indonesia, mengingat berbagai kondisi yang tercipta saat ini. Mengacu pada ilmu manajemen kepemimpinan modern, setidaknya ada lima karakter yang idealnya dimiliki seorang pemimpin. Bila dirangkum, gabungan katanya dapat membentuk satu kosa kata baru (Inggris), “VOICE”. Kata tersebut merupakan kependekan dari “Vision, Optimizing your self, Integrity and character, Communication, dan Empowering”. Idealnya, potensi dari karakter-karakter ini akan muncul jika diasah dan dikembangkan. Salah satu media yang efektif menajamkan potensi tersebut adalah dengan terjun langsung dan pelibatan diri dalam organisasi. Karena memang menurut Henry Mintzberg, kepemimpinan itu seperti berenang, tidak cukup hanya dipelajari lewat teks buku.
1.Visi. Seorang berjiwa pemimpin sepatutnya memiliki kejelasan pandangan ke depan terhadap diri dan lingkungan yang ia pimpin.
2.Optimizing your self. Setiap orang unik dengan potensinya masing-masing. Potensi ini dapat dikembangkan dan diasah. Namun memang tidak semua ngeh dengan potensinya, bahkan tak jarang ia terkungkung oleh pikiran sendiri. Tepatlah ungkapan sebuah kalimat bijak bahwa seseorang dapat mengubah hidupnya dimulai dari mengubah caranya berpikir. Ketika pikiran positif, berbagai potensi ini pun akan semakin mudah ditajamkan. Salah satu potensi tersebut adalah sikap kepemimpinan itu sendiri. Tapi sekali lagi potensi yang telah menempel dalam diri setiap orang ini sepatutnya  terus dipertajam. Potensi ini mesti dikenal dan dipelajari gambar besarnya, kemudian dilatih dan diasah melalui eksekusi lapangan. Lagi-lagi organisasi dapat menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin mengaktualisasikan potensi dirinya.
3.Integritas dan Karakter. Integritas merupakan buah dari pengalaman dan bisa dicapai dengan jalan membangun kepercayaan, melayani sepenuh hati, serta berani menghadapi kesulitan. Sedangkan karakter terbentuk dari kebiasaan dan sikap tepat janji, konsisten dengan apa yang diucapkan dan disepakati, bertanggung jawab serta berkomitmen jujur dan terbuka, menepati dan menghargai waktu, maupun menjaga prinsip yang diyakini kebenarannya. Kesemuanya pun dapat dipupuk melalui interaksi dengan organisasi secara reguler. Dengan integritas dan karakter ini, seorang pemimpin akan berusaha selalu berada pada barisan terdepan dalam pelayanan. Seperti teori Stephen Covey, “A leader is the one who climbs the tallest tree, surveys the entire situation, and yells, ‘Wrong jungle!
4.Komunikasi efektif. Kemampuan menyampaikan pikiran dan kepiawaian dalam mendengarkan juga layak dimiliki pemimpin sejati. Ada proses komunikasi dua arah antara pemimpin dan yang dipimpin. Selain mampu mempengaruhi dan menyentuh jiwa, kepiawaian yang dapat diperoleh melalui interaksi dengan organisasi ini juga akan berdaya meruntuhkan sekat biang miss dalam komunikasi.Namun proses komunikasi tidak melulu melalui bahasa verbal. Bahasa tubuh pun dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif. Memberi contoh teladan yang baik misalnya juga dapat menjadi alternatif dalam berkomunikasi, bahkan dengan goresan kesan yang lebih mendalam.
5.Memberdayakan orang lain. Kemampuan memberdayakan -bukan memperdayai- menjadi bagian kekayaan karakter yang tak kalah berharga bagi seorang pemimpin. Kemampuan ini, seperti empat karakter lainnya, juga dapat diaktifasi melalui interkasi dengan organsisai, karena organisasi sendiri adalah miniatur kehidupan. Rekan sesama organisasi -bawahan maupun atasan- menjadi aset berharga untuk penumbuhan karakter ini. Di dalam organisasi setiap orang belajar mempercayai (believe in them), memotivasi (encourage them), berbagi (share with them), serta memberikan kepercayaan untuk melaksanakan tugas sekaligus mempercayai bahwa mereka bisa melakukannya (trust them).
Sebagai salah satu cerminan kepemimpinan di Indonesia, yaitu kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dapat dilihat dan dianalisis bersama bahwa lemahnya kepemimpinan SBY membawa dampak yang kompleks bagi rakyat Indonesia. Berdasarkan depth interview yang dikembangkan, setidaknya terdapat empat persoalan penting yang dapat dianalisis, diantaranya:
Pertama, Banyak kasus yang tak tuntas selama era kepemimpinan SBY. Komunitas Hak Asasi Manusia memiliki kasus pembunuhan Munir; Komunitas politik memiliki kasus Bail-Out Bank Century; Komunitas pro keberagaman agama dan pluralisme memiliki kasus kekerasan atas Ahmadiyah; dan Komunitas anti korupsi memiliki kasus Nazarudin. Dari keempat kasus tersebut, tidak satupun kasus yang berhasil diselesaikan oleh SBY, meskipun telah berjanji akan menuntaskannya.
Kedua, SBY dipandang reaktif dan terlalu sering “curhat” untuk kasus yang menurut publik sepele. Sebagai contoh, SBY dinilai publik terlalu reaktif dalam merespon pesan pendek SMS yang memojokkan dirinya. Publik juga kecewa atas berbagai “curhat” yang dilontarkan oleh SBY, seperti curhat gaji Presiden SBY yang tidak naik selama 7 tahun dan curhat soal dirinya yang direpresentasikan sebagai Kerbau dalam sebuah aksi demo. Padahal idealnya, publik lah yang seharusnya menyampaikan “curhat” kepada presiden.
Ketiga, SBY tidak memiliki operator politik yang kuat. Dari 4 operator presiden (Wakil presiden, Partai Demokrat, Kabinet, dan Setgab Partai), tidak satupun yang mampu membantu presiden secara optimal. Wakil Presiden Boediono bukanlah tipe orang yang berani mengambil inisiatif dalam hal kebijakan. Berbeda dengan Jusuf Kalla yang dipandang sebagai wakil Presiden dengan tipe pendobrak, lincah dalam mengambil peran untuk membantu presiden; Menteri pun tidak mampu melakukan kerjanya secara baik, akibatnya adalah Presiden SBY dipandang gagal dalam mengarahkan para pembantunya; Partai Demokrat juga tidak memiliki kekuatan. Itu dikarenakan ketua umum Partai Demokrat tidak memiliki kewenangan sebesar ketua umum partai-partai lain; Setgab koalisi partai pun sama, tidak solid dan padu dalam mengoperasikan kebijakan SBY. Karena masing-masing partai memiliki kepentingan politik yang berbeda.
Keempat, SBY dinilai tidak berdaya dalam menangani kasus Nazarudin (mantan bendahara umum dan anggota DPR dari partainya sendiri). Terus dibiarkannya kasus Nazarudin bergulir tanda adanya penyelesaian hukum, publik akan menilai SBY telah keluar dari jalur perjuangannya sebagai presiden yang berani mengatakan tidak pada korupsi.
Berdasarkan uraian diatas, hal tersebut bukanlah untuk menghakimi beberapa pihak, akan tetapi merupakan salah satu upaya untuk menjadikan bangsa Indonesia mewujudkan cita-citanya sesuai yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Selain itu, dapat dijadikan bahan renungan bahwa Indonesia kini membutuhkan ksatria-ksatria yang siap membela dan memperjuangkan Indonesia menuju kejayaan. Dari sinilah kemudian tergambar bahwasanya sebagai seorang pemuda/mahasiswa yang sering disebut kaum intelektual muda kampus memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengkontribusikan pemikiran–pemikiran kritis dan ideal untuk membuka ruang pemikiran baru yang lebih visioner guna membangun kondisi bangsa yang lebih baik kedepannya, yang salah satunya adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa melihat seperti apa sosok kepemimpinan yang diperlukan bangsa Indonesia kedepannya, karena setiap kepemimpinan akan memiliki sejarahnya masing-masing dan hal ini sejalan dengan suatu pernyataan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang hebat, tangguh dan memiliki karakter yang kuat untuk mengejar cita-cita pembanguan ditengah segala problematika yang harus dihadapinya dengan visi dan sistem yang kuat.

Semua tentang cinta :)

“Suatu malam yang ramai dengan hilir mudik para pengendara motor, si fulanah menyusuri pinggiran jalan dibawah sinar rembulan yang malu untuk menampakkan wajahnya, sendiri. Ada sedikit kekhawatiran saat itu, sedikit perasaan takut yang membumbui perasaannya malam itu, akan tetapi perasaan itu terkalahkan oleh perasaan cintanya kepada Sang Khalik, yang menciptakan siang dan malam. Lantunan dzikir membasahi bibirnya. Berpasrah itulah yang diinginkannya. Untuk meneguhkan hati dan mengobati rasa lapar yang sudah ditahan sejak pagi, ia mampir kesebuah warung makan dan membeli sebungkus nasi. Ditengah-tengah perjalanan, fulanah menjumpai seorang wanita tua yang sedang tertidur pulas di emperan pos kampling. Wajahnya menampakkan keletihan yang amat mendalam, nampak jelas banyak beban yang terpendam pada wanita tua itu, hingga membebaskan dirinya tertidur ditempat manapun. Ingin menangis rasanya, seraya bertanya-tanya dalam hati, kemana anak-anaknya? Kemana suaminya? Kemana keluarganya?..
Ya Rabb.. sungguh tega nian orang yang mengabaikan orang tuanya. Tanpa berpikir panjang, fulanah meletakkan bungkusan nasi yang ia pegang didekat tubuh wanita tua yang sedang tertidur pulas itu. Kemudian ia mendoakan wanita itu untuk kemuliaan, lantas ia melanjutkan perjalaannya.
...dan keajaiban-keajaiban itu mulai datang, kemudahan-kemudahan itu mulai menghampiri fulanah. Dihari berikutnya, kemudahan itu menghampiri disaat ia menyerahkan segala permasalahan dalam hidupnya pada Sang Pencipta. Ditengah perasaan galau, dan merasa dirinya tidak berprestasi dari yang lainnya, disitulah ia banyak belajar akan ketulusan cinta, bukan untuk mengharap puji dari manusia, akan tetapi dihadapanNYa lebih utama. Ketika ia mengikuti beberapa perlombaan yang belum pernah ia juarai, ia sangat terkaget ketika cintanya kepada Sang Khalik dijawab melalui ini, ia menjadi juara dalam beberapa perlomban yang ia ikuti. Dan masih banyak kemudahan-kemudahan lain yang dijumpai ketika menyerahkan semua padaNya dengan menyerahkan cinta hanya padaNya.”
Sebuah penggalan cerita diatas merupakan pengalaman kecil yang mungkin tidak berarti bagi kebanyakan orang, karena memang belum mengetahui secara runtut dan pasti tentang cerita tersebut, terlebih belum mengalami dan membuktikan sendiri. Banyak pengalaman spiritul yang menghampiri, ketika kita sedang dekat dengan Sang Khalik.
Disini saya belajar banyak tentang makna cinta, bahwa cinta merupakan sesuatu hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata demi kata, akan tetapi dapat dirasakan didalam kalbu. Cinta merupakan fitrah dari Yang Mahakuasa yang dimiliki setiap insan didunia. Akan tetapi kebanyakan orang menyalahartika tentang makna cinta. Pengalaman-pengalaman spiritual yang luar biasa, yang sering dialami itu bisa disebut buah dari cinta. Bukan cinta kepada manusia, lebih dari itu. Yakni cinta kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Ingat sebuah syair, “cinta pada harta kelak kan musnah binasa, cinta pada bunga kelak kan musnah binasa, akhirnya”. Yap, begitulah cinta kepada Sang pencipta harus diatas segala cinta. Keyakinan akan kekuatan cintaNya, akan membuat hidup semakin bermakna dan semakin mudah, apapun dan seberapa pun beratnya tantangan. Ketika kita menyerahkan segalanya kepadaNya dengan ikhtiar yang maksimal, maka kemudahan dan kesuksesan yang akan didapat.
“Bukan sesuatu yang mencemaskan
ketika kamu kebingungan menentukan jalan hidupmu,
tetapi yang membahayakan adalah
ketika kamu telah dikuasai oleh hawa nafsu.”
“Tak ada sesuatu yang kamu cintai dan tidak menjadikanmu sebagai hambanya,
dan Dia tidak menyukai kamu menjadi hamba selain-Nya.”
(Al Hikam, Ibn ‘Athaillah)

Rabu, 16 November 2011

Amanah dan Aminah :)


“Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yah, begitulah. Setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.Sebagai bahan refleksi dan koreksi pribadi, sekian amanah yang datang sudah sejauh mana amanah itu terselesaikan dengan penuh tanggung jawab? Sekian amanah itu akan menjadikan diri semakin aminah. Ingat "wejangan" seorang guru, "Amanah tidak bisa diminta, dan amanah ini akan membuat aminah menjadi aminah. Bukan aminah yang membawa amanah, tapi amanah yang akan membawa aminah lebih aminah". Sebaris kalimat yang tertanam dalam hati ini, untuk selalu ingat pada setiap hal yang menjadi amanah, dan mendidik untuk tidak serakah atau merebut amanah. Karena Rosulullah pun tak menyukai orang yang meminta amanah.

Intinya, mari melaksanakan amanah dengan penuh tanggung jawab. Saling mengingatkan dalam kabenaran dan kesabaran... :)