Jumat, 16 November 2012
Sebelum Kita Mengeluh
Sebagai bahan untuk pengingat dikala kaki ini lelah melangkah.. Coba lihat, dengar dan rasakan...
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang
seseorang yang tidakdapat berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Kamis, 01 November 2012
Di Kader Jadi Mantu!
"Aminah, sudah punya pacar?" tanya beliau.
"Belum pak, dan insyallah tidak pacaran" tukas saya.
"hmm., mau langsung nikah gitu?" sahut beliau.
" :) " hanya bisa senyum.
"Bapak Aminah kerja apa?"
"Bapak jualan mainan anak-anak keliling pak, di Jakarta.."
"Oh, yah, gak usah minder,. bla bla bla"
Rabu, 31 Oktober 2012
Ojo Sugetan
22-10-2012; 16.02 WIB
Sebuah perasaan yang
biasanya sering melanda setiap orang, disadari atau tidak rasa ini memang
menyerang seperti virus yang tidak pandang bulu kapan melandanya. Sulit
diungkapkan dengan bahasa Indonesia yang benar, saya pun belum menemukan kata
yang tepat untuk menggambarkan hal itu. Rasanya semacam rasa dengki, cemberut
di sertai muka yang kusut, galau, temperamen, sensitive, dan sebagainya-lah.
Yang jelas rasa ini berhubungan dengan Mood.
Tetapi rasa ini datang secara spontan seperti jelangkung datang tak dijemput pulang tak diantar. Menyeramkan.
Sabtu, 20 Oktober 2012
Di Surga Katanya
Kak, Bagaimana kabar kakak disana?
Aku merindukanmu Kak.,
Aku harap Kakak selalu bahagia disana.,
Kak, kasih tau Aku dong, gimana enaknya disana?
Aku belum bisa mbayangi lhoh.,
Kata orang Surga itu adem ya Kak,
Gimana harumnya bunga Kasturi, Kak
Gimana suara gemericik merdu sungai-sungai disana.,
Disana banyak buah-buahan ya Kak.,
Wah,. Aku pengen kesana Kak.,
Aku merindukanmu Kak.,
Aku harap Kakak selalu bahagia disana.,
Kak, kasih tau Aku dong, gimana enaknya disana?
Aku belum bisa mbayangi lhoh.,
Kata orang Surga itu adem ya Kak,
Gimana harumnya bunga Kasturi, Kak
Gimana suara gemericik merdu sungai-sungai disana.,
Disana banyak buah-buahan ya Kak.,
Wah,. Aku pengen kesana Kak.,
Rabu, 10 Oktober 2012
Iseng-iseng :)
JEND: Etravert, Intuitif, Feeling, Jugding...
ENFJs are the benevolent 'pedagogues' of humanity. They have
tremendous charisma by which many are drawn into their nurturant
tutelage and/or grand schemes. Many ENFJs have tremendous power to
manipulate others with their phenomenal interpersonal skills and unique
salesmanship. But it's usually not meant as manipulation -- ENFJs
generally believe in their dreams, and see themselves as helpers and
enablers, which they usually are.
ENFJs are global learners. They see the big picture. The ENFJs focus
is expansive. Some can juggle an amazing number of responsibilities or
projects simultaneously. Many ENFJs have tremendous entrepreneurial
ability.
Minggu, 07 Oktober 2012
Profesi, Antara Idealita dan Realita
Menghadapi
realita, bahwasanya kita tidak selamanya akan terkungkung dalam bangku
perkuliahan, dalam pergerakan mahasiswa dan dinamikanya. Tidak bisa dipungkiri
bahwa kita akan menghadapi dinamika pasca kampus, yang merupakan realita dalam
kehidupan. Kadang kala, realita yang dihadapi akan berbenturan dengan idealita
yang kita pegang selama menjadi mahasiswa. Oleh karenanya, kita harus mulai
menentukan arah, kemana kita akan berlayar di fase yang berbeda tersebut,
apakah kita masih akan memperjuangkan idealita yang melekat dalam diri kita
ataukah hanyut dalam arus realita yang ada.
Daurah Mihani (training profesi)
merupakan sebuah pelatihan yang dilakukan untuk
memfasilitasi para mahasiswa tingkat akhir (atau tingkat galau) dalam persiapan
menuju dunia pasca kampus. Selain itu, pelatihan ini digagas supaya kader-kader
dakwah memiliki strategi mendakwahkan dunia islam dalam profesi yang kelak
dijalani. Sehingga sektor-sektor profesi dapat dikelola dengan bernafaskan
Islam. Pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 12 ini terdapat empat
materi yang disampaikan Salah satunya adalah mengenai Dinamika Jenjang Profesi
antara Idealita dan Realita yang disampaikan oleh Bapak Agung B. Margono
(Anggota DPRD Jateng) dan Bapak Fris Yulianto (Anggota DPRD Jateng).
Dalam penyampaiannya Bapak Fris,
Ketua BEM UNDIP 2000-2001 menyampaikan dengan penuh keceriaan dan humor segar
untuk menghangatkan suasana, bahwa perlu adanya Grand Strategy Dakwah dalam
dunia profesi. Adapun dua hal yang harus kita pilih, Mobilitas vertikal
(penyebaran SDM dakwah ke lembaga dan kebijakan) atau Mobilitas Horizontal
(penyebaran dakwah ke lapisan masyarakat).
Garis besar yang disampaikan
adalah arahan kedepan pasca kampus, beberapa hal yang harus dilakukan untuk
menentukan masa depan pasca kampus kita, diantaranya:
- a. Buat Perencanaan Karier, tentukan visi dan misi serta deskripsikan mimpi.
- b. Buat peta perjalana karier
- c. Buat hobby menjadi peluang
- d. Buat catatan keberhasilan
- e. Tentukan sasaran karier
- f. Ketahui tren karier dan pekerjaan
- g. Pelajari hal-hal baru.
Apapun pilihan kita,
- - Kewajiban kita adalah tetap beribadah baik secara vertikal maupun horizontal.
- - Saatnyan bayar “hutang” dengan membalik keadaan
- - Satu hal, kita punya kewajiban atas waktu.
Menambah
aura semangat pelatihan, Bapak Agung dengan gaya kholeriknya menyampaikan bahwa
hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali “siapa saya? (kita)”,
mengenali potensi yang kita miliki untuk kemudian menentukan tiga ranah dunia
pasca kampus. Adapun tiga ranah tersebut adalah Profesi/profesional/pegawai,
coorporate/pengusaha, dan civil society/politisi/pelayan publik. Dalam
pencapaianya, ada beberapa targetan pasca kampus. Diantaranya, competence,
courtesy, credibility, kehandalan, responsibility, empathy, dan communication.
Tentunya, banyak pertanyaan yang akan muncul
bagaimana mensiasati visi dan aksi kita kedepan. Oleh karenanya,
- - Diskusikan dengan teman dekat, mau bagaimana kita,
- - Pertegas visi dan hadiri forum-forum yang memperkuat visi kita,
- - Kita perlu bercermin, kita perlu figur. Significant model!
- - Rencanakan sejak sekarang, korelasikan dengan mimpi-mimpi kita.
Semoga
apa yang menjadi visi dan mimpi kita dapat tercapai dan dapat memberikan
kebermanfaatan hidup sesama (red: dakwah).
Wallahu’alam
bishowab.
Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro
Dies natalis Undip ke 55, usia yang
tidak lagi muda untuk ukuran sebuah universitas di negeri ini. Dalam
perjalanannya, banyak prestasi yang telah dicapai oleh Universitas yang
menobatkan diri menjadi universitas riset di tahun 2020 ini. Semarak perayaan
Dies Natalis Undip disambut dengan antusiasme yang cukup tinggi dari seluruh
civitas akademika Undip. Berbagai agenda kegiatan dirancang guna memeriahkan
hari jadi Undip tersebut.
Tema yang diangkat kali ini adalah
“Menjadi Universitas yang Unggul dan Berkarakter”. Hal ini merupakan cerminan
dari internalisasi nilai-nila Pangeran Diponegoro sebagai icon dari Universitas
Diponegoro, dimana sosok dan semangat perjuangan Pangeran Diponegoro yang mampu
menginspirasi mahasiswa untuk terus menumbuhkembangkan karakter yang jujur,
disiplin dan berani.
Serangkaian kegiatan dilaksanakan guna
memeriahkan Dies Natalis Undip ke 55 ini. Adapun kegiatan yang dilaksanakan
meliputi kegiatan ilmiah, pengabdian masyarakat, pengobatan massal, malam inagurasi, jalan sehat dan fun bike,
kirab budaya hingga pagelaran wayang kulit dan wayang orang. Berbagai
perlombaan seni bagi para mahasiswa seperti Undip Idol dan konser Harmoni
Khatulistiwa oleh paduan suara mahasiswa Undip juga turut menyemarakkan hari
jadi Undip.
Sebagai pembuka rangkaian kegiatan Dies
Natalis Undip diadakan kirab budaya dengan tema “Napak Tilas Perjuangan
Pangeran Diponegoro di kampus Undip Tembalang. Acara dimulai dari gedung
rektorat Undip mengitari jalan protokol kampus. Kirab budaya nusantara tersebut
akan menampilkan oase perjuangan Pangeran Diponegoro. Rektor Undip Prof
Sudharto P. Hadi, MES, Ph.D memperagakan peran sebagai Pangeran Diponegoro
dengan menggunakan jubah kebesarannya berwarna putih diikuti dengan para
pembantu rektor dan anggota senat universitas dengan mengenakan pakaian adat
jawa. Rektor dan pimpinan Undip serta senat universitas selama kirab menaiki
andong dokar mengitari kampus, dimana dalam barisan terdepan diawali dengan
defile musik-musik tradisional. Tujuan dari kirab budaya tersebut selain mangayuh bagyo memeriahkan perayaan dies
juga untuk memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro kepada
segenap sivitas akademika khususnya mahasiswa.
Semarak Dies Natalis Undip diharapkan
mampu memberikan nuansa berbeda dalam perjalanan Undip kedepan, dengan
memvisualisasikan semangat perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perjalanan
menuju puncak kesuksesan. Sehingga dapat menumbuhkan karakter yang kuat bagi
seluruh mahasiswa, dan tentunya dapat menjadi katalisator bagi Undip menuju
Universitas yang Unggul dan Berkarakter serta menjadi Universitas Riset di
tahun 2020.
Sabtu, 06 Oktober 2012
Khoirunnas anfauhum linnas
Tidak ada alasan
bagi orang beriman untuk tidak memanfaatkan setiap peluang kebaikan yang
menghampiri, karena kesempatan tidak datang dua kali. Untuk meraih peluang dan
kesempatan, tentunya harus ada persiapan-persiapan yang dilakukan. Seperti
halnya keberanian, tapi tidak hanya keberanian saja, punya keberanian tanpa
punya keterampilan sama saja kita tidak siap. Oleh karenanya kita juga butuh
keterampilan, dan keterampilan itu harus dilatih, tidak muncul begitu saja.
Kita sudah dapatkan tiga hal; keberanian, keterampilan dan kesempatan. Alangkah
mudahnya jalan yang akan kita lalui manakala ketiga hal ini kita genggam.
Namun, tantangan
tidak sampai disitu saja. Ketika kita mendapatkan kesempatan, sudahkah yakin
bahwa kesuksesan atau prestasi itu akan kita dapatkan? Kalau belum, kita butuh
bumbu untuk menjadikannya semakin lezat. Ada ikhtiar dan doa dalam setiap jejak
langkah kita. Satu hal lagi, tawakal’alallah. Tentunya prestasi ataupun
kesuksesan itu tidak akan mulus jalannya apabila tiada ridho dari yang Maha
Berkehendak atas segala sesuatu, Allah Azza wa jalla. Oleh karena itu, perlu
adanya niatan yang tulus dan ikhlas dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan,
bahwasanya apa yang kita lakukan semata-mata mengharap ridho Allag SWT. Mantab
gag tuh?
Tidak berhenti
disini saja, coba kita kembali pada tujuan awal kita, untuk apa sih sebenarnya
prestasi ataupun kesuksesan yang kita raih? Apakah untuk meraih penghargaan,
pengakuan, status sosial, atau hanya sebatas plakat dan sertifikat? Kalau itu
tujuan, tidak perlu menerapkan rumusan-rumusan yang telah kita bicarakan
diatas, mubadzir. Karena tujuannya sudah melenceng cuy.
Sepertinya akan
lebih menarik ketika kita membahas tentang “kebermanfaatan/kebermaknaan hidup”.
Coba bayangkan, ketika rumusan yang kita bicarakan sebelumnya tadi bermuara
pada kebermanfaatan bersama, pahala kita tidak akan terputus. Ingat kan, tiga
amalan yang tidak akan terputus; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa
anak yang sholeh. Karena berprestasi ataupun sukses itu bukan utilitas pribadi,
bukan hanya milik kita semata. Alangkah indah, ketika prestasi yang kita raih
itu memberikan dampak positif serta memberikan kebermanfaatan bagi banyak
orang. Luarr biasa!
Niatan yang perlu
kita bangun adalah, kita harus berani mencoba setiap tantangan yang ada didepan
kita, termasuk setiap peluang yang datang (karena peluang itu akan datang
kepada ia yang sudah siap). Dengan mencoba, kita akan menemukan berbagai proses
menuju sebuah prestasi yang bermuara pada kebermanfaatan hidup. Mari kita niatkan,
setiap apa yang kita lakukan, termasuk prestasi yang kita raih adalah untuk
kebermanfaatan sesama, barangkali ketika kita berprestasi mampu memberikan arti
bagi saudara-saudara kita. Anda tahu, barangkali apa yang kita capai saat ini,
kesuksesan yang kita raih buka merupakan hasil kerja keras kita saja, melainkan
campur tangan dari saudara-saudara kita yang mendoakan kita tanpa kita tahu.
Karena tanpa kita sadari, saudara-saudara dan keluarga kita lah yang mendukung
kita dikala kita terhimpit. Maka, jangan pernah lupakan mereka dengan kembali
memberikan kebermanfaatan untuk orang-orang disekitar kita.
Wallahu’alam
bishawab
Marriage (jilid 2)
Menikah, menyempurnakan separo dinnullah, menjalankan ibadah sunah Rasulullah. Tidak jarang di usia kita sekarang (19-20an) mulailah ada perasaan dan keinginan untuk menunaikan hajat tersebut, bahkan menikah bukan menjadi sebuah bahasan yang tabu untuk dibicarakan –beramai-ramai-. Dan tidak sedikit yang sudah menunaikannya diusia kita sekarang. Bahkan bukan hal langka bagi Al Akh dan Al ukh (di usia sekarang) memiliki niatan untuk menunaikan sunah tersebut. Entah karena memang sudah siap atau sekedar keinginan atau malah karena nafsu. Naudzubillah.Maukah Anda menikah? Ya, tentulah setiap orang mau menikah. Tetapi waktu yang akan membedakannya. Dan setiap orang pastilah punya targetan untuk hal itu.Tapi jangan buru-buru, sudah siapkah Anda dengan segala resikonya? :PMengenai pernikahan, menjadi suatu perkara yang harus disegerakan. Apabila telah memenuhi kemantapan, baik spiritual maupun material. Akan tetapi terkadang ada saja alasan-alasan yang diada-adakan, beralaskan kesiapan padahal sejatinya adalah nafsu belaka. Ataukah memang sudah ada yang sedang menunggu? :p Menyegerakan terbalik menjadi tergesa-gesa. Itu yang harus kita pikirkan matang-matang.Disisi lain, kita harus tahu, apa tujuan kita menikah. Apakah hanya sebatas keinginan (nafsu), kesiapan, atau umur yang sudah tak muda lagi. Rasulullah bersabda:Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa diantara kalian yang belum mampu maka hendaklah berpuasa. Karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak hawa nafsu. (HR Bukhari Muslim)Dari hadist diatas kita ditunjukkan betapa mulianya sebuah pernikahan. Dalam hadist tersebut, Rasulullah menganjurkan untuk segera menikah apabila sudah mampu dan berkeinginan, hal ini juga menjadi sebuah catatan untuk kita, apakah sudah benar-benar mampu ataukah hanya sebatas keinginan. Harus digaris bawahi, bahwa dianjurkan untuk menikah apabila telah mampu dan berkeinginan. Tentunya dengan berbagai syarat yang pula menyertainya.Dihadapkan pada realita yang ada, sebagai aktivis dakwah sudah seharusnya memprioritaskan urusan agama dalam mempertimbangkan dan memutuskan untuk melangsungkan sunah tersebut. Sudah selayaknya pula kita memikirkan generasi penerus kita di masa mendatang. Apakah setelah kita memutuskan untuk menikah, kita juga masih istiqomah di jalan dakwah? Barangkali ada yang memiliki pemikiran –kapan saatnya mengurusi diri sendiri, kenapa terus terusan ngurusin umat- semoga kita tidak tergolong orang yang berpikiran seperti demikian.Menikah bukan hanya kepentingan pribadi kita, melainkan banyak pihak yang harus terlibat dalam kebahagiaan tersebut. Karena sebagai aktivis dakwah (sejak lahir kita adalah seorang da’i) kita bukanlah utilitas pribadi, bahwa hidup kita tidak hanya untuk kita sendiri. Oleh karena itu, menikah adalah salah satu sarana untuk menambah kebermanfaatan kita terhadap umat. Ketika masih sendiri, track record kita di jalan dakwah barangkali belum sempurna, oleh karenanya kelak disempurnakan dengan hadirnya pasangan kita yang setia bersama-sama berjalan di jalan dakwah ini. Insyaallah.Hal tersebut akan memunculkan pertanyaan besar dalam benak kita, sudah beranikan kita mengazamkan diri untuk menjalankan sunah tersebut? ketika diri ini masih harus banyak berkontemplasi dan memperbaiki diri. Karena kita tidak ada yang tahu bagaimana kaki-kaki kita akan melangkah kelak, akahkah kita masih istiqomah di jalan ini atau tidak. Tugas kita adalah senantiasa memperbaiki diri dan taat kepada Allah, mensholehklan diri untuk kelak juga mendapatkan yang sholeh. Karena perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Sudah baikkah kita? Hanya diri kita dan Allah yang Maha Tahu.Wallahu’alam bishawab
Langganan:
Postingan (Atom)



