Senin, 06 Mei 2013

Bahagia itu = Bermanfaat



Khayalku  memang tak mau berhenti di satu tempat saja, saat aku memotongi laminasi bakal PIN dan ganci, saat aku menyapu halaman di Loetju Semarangan. Atau saat mendengarkan Boss berbagi pengalamannya setiap saat. Satu yang hingga kini terus menggelayut dibenakku. Tentang hidup ini, tentang kebermanfaatan.

Dalam kamus hidupku, kebermanfaatan memiliki proporsi yang tinggi dalam barisan target hidupku, bahkan itu menjadi syarat utama dalam setiap gerak-gerikku. Kendati demikian, aku belum punya standar ideal sebuah niat dan tindakan itu berujung pada sebuah kebermanfaatan bersama (red: umat). Barangkali pembaca punya referensi buku ataupun kisah untuk bisa ku pelajari, untuk menjawab hal itu.

Setiap aktivitas yang sedang aku jalani ini harus berujung pada kebermanfaatan untuk orang lain, tanpa mengesampingkan diriku tentunya. Hanya saja, siapa yang akan merasakan kebermanfaatan ini. Mulai memutar otak. Sudah belum ya, atau jangan-jangan aku hanya terjebak pada rutinitas yang berlandaskan kepentingan pribadi, tanpa disadari.
Secara teori memang gamblang, bahwa sungai-sungai itu pada akhirnya akan bermuara kelautan yang luas. Begitu pula dengan hal-hal kecil yang kita lakukan, tentunya yang berlandaskan asas kebermanfaatan. Aku yakin, akan bermuara pada kebermanfaatan bersama.

Tapi mimpiku lebih dari lautan yang luas,
melainkan lautan itu akan bermuara pada samudra. Cakupan yang ingin aku gapai, begitu luas. Entahlah, bagaimana memulainya. Tentunya, dari sungai-sungai yang kecil itu. Namun, aku harus mencari kendaraan yang tepat untuk sampai ke samudra.

Tanganku memang cuma dua, kakikupun hanya sepasang. Bagaimana aku bisa merengkuh samudra. Isi otakku mungkin tidak sebanyak para penguasa senayan. Kadang aku bertanya, apa yang aku punya. Mulutku juga tak sepandai para aktivis yang masih eksis di kampus dalam berdiplomasi.

Lalu aku sadari kembali, kita semua sama-sama punya waktu yang sama, kesempatan yang sama, dan mungkin jumlah anggota tubuh kita pun sama. Yang membedakan adalah sejauh mana ikhtiar kita sekarang.

Banyak orang yang berprestasi, bolak-balik ke luar negeri, ganti gadget berkali-kali, tapi yang punya hati? Hanya Tuhan yang tahu.

Berprestasi itu hanya sarana, untuk dapat memberikan kebermanfaatan bersama. Bukan tahta, tepuk tangan, atau tumpukan piagam tak berguna. Ingat, cuma sarana. Bukan berarti mutlak, yang tidak punya prestasi terus tidak bisa bermanfaat, tidak. Kalau iya, orang-orang seperti aku pasti hanya bisa bengong.

Entahlah..
Memang, pandangan Allah itunyang utama. Yang penting azzam yang kuat dan ikhtiar yang tepat, disempurnakan dengan doa yang kenceng. Semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat, sesuai kapasitas.
Menjadi bermanfaat itu membahagiakan. Bahagia itu sederhana, :D 

0 komentar: