Senin, 06 Mei 2013

Tulang Rusuk, Tak Cuma Bisa Bersandar


(dimuat di buletin online KAMMI Semarang) 
Betapa Istimewanya Tulang Rusuk itu..
            “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)
Kita sering mendengar sebuah ungkapan; Tulang rusuk itu dekat dihati untuk dicintai, dekat ditangan untuk dilindungi. Istimewa dan romantis. Sedikit banyak menggambarkan betapa istimewanya perempuan dimata kaum adam, namun disisi lain sedikit banyak menggambarkan pula betapa lemahnya  perempuan dimata kaum adam. Memang romantis, tapi seakan membredel nilai estetika dari seorang perempuan yang tak hanya bisa berlindung kepada kaum adam saja. Entahlah.
Jauh lebih dari itu, perempuan mampu berbuat lebih dari perspektif dangkal kita. Telah banyak fakta yang mempertontonkan peranan perempuan yang terbingkai dalam kisah-kisah pejuang perempuan yang inspratif. R.A Kartini seorang pahlawan perempuan yang telah memperjuangkan hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan menjadi tonggak perubahan arah gerak dalam pergerakan keperempuanan. Di era ini, disusul tokoh perempuan yang sangat inspiratif dalam ranah sosial politik, Ustadzah Yoyoh Yusro. Seorang anggota DPR yang terus memperjuangkan hak-hak perempuan dengan tetap menjalankan syariat demi kemajuan umat hingga akhir hayat. Ini sebagian kecil, kita tidak tahu betapa banyaknya kaum perempuan yang telah memberikan kebermaknaan untuk masyarakat, tapi tak tercatat. Atau memang mereka tidak mau tercatat, demi menjamin ketulusan pengorbanan dan perjuangannya. Ingat lagi sebuah ungkapan; Kalau kaum perempuannya baik, baik pula negaranya. Betapa istimewanya perempuan. Menjadi sebuah jaminan.
Sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah. Perempuan juga mendapatkan porsi yang lebih dalam Islam, Allah sungguh memuliakan perempuan terbukti dengan adanya satu surat di dalam Al Qur’an yang mengupas tuntas tentang perempuan; QS. An Nisaa’. Terlebih, hadist Rasulullah SAW bahwa surga itu ditelapak kaki Ibu (perempuan) bukan di kaki Bapak. Jelas, perempuan mendapat porsi yang istimewa.

Sama kok Tugasnya..
Realita telah jelas menggambarkan bagaimana kiprah perempuan dalam berbagai sektor. Fakta menjelaskan bahwa perempuan sudah kembali meraih hak-hak nya dalam berbagai aspek, baik sektor pendidikan, ekonomi, kesehatan dll. Perempuan kini menjadi bahasan yang menjadi arus utama garapan berbagai sektor. Hal tersebut telah menyadarkan masyarakat bahwa perempuan memiliki banyak potensi yang belum terberdayakan secara optimal. Apabila potensi itu dioptimalkan, sudah pasti akan membawa kebermaknaan yang bermuara pada angin perubahan di negeri ini.
Terlepas dari bagaimana kebermaknaan perempuan, kaum perempuan sungguh memiliki eksistensi yang tak pernah dinomorduakan dalam Islam. Dari sisi tanggungjawab kemanusiaan laki-laki dan perempuan sama dihadapan Allah, tidak ada perbedaan potensi keperempuanan ataupun kelelakian. Telah jelas dipaparkan dalam Al Qur’an:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( An Nahl: 97)
Berbagai potensi yang dimiliki oleh perempuan sejatinya memberikan semacam sinyal bahwasanya perempuan itu tidak hanya mengandalkan laki-laki, tidak hanya bisa bersandar.
Tugas dalam kaidah Islam, adalah menjalankan perintah Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Dalam firmanNya telah jelas bahwa dalam ibadah baik laki-laki maupun perempuan memilik kewajiban yang sama.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 33)
            Allah telah memberikan peluang bagi kaum perempuan untuk terus memberikan kebermaknaan melalui berbagai sektor. Ini yang harus disyukuri. Oleh karena itu, perlu adanya upaya berkelanjutan dalam rangka pemberdayaan perempuan guna mengoptimalkan potensi perempuan sesuai bidangnya dan tentunya sesuai dengan syariat Islam.
            Dalam pemerintahan, perempuan sudah mendapatkan porsi yang lebih di tataran legislatif yakni keterwakilan perempuan di ranah legislatif sebanyak 30%. Hal ini merupakan upaya affirmative action untuk mendorong keterwakilan perempuan dalam politik, seperti pada pelaksanaan pemilu 2009, peraturan perundangundangan telah mengatur kuota 30% perempuan bagi partai politik (parpol) dalam menempatkan calon anggota legislatifnya. Undang-Undang (UU) Nomor 10/2008 tentang Pemilu Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (pemilu legislatif) serta UU Nomor 2/2008 tentang Partai Politik telah memberikan mandat kepada parpol untuk memenuhi kuota 30% bagi perempuan dalam politik, terutama di lembaga perwakilan rakyat. Inilah bukti bahwa perempuan tidak hanya bisa bersandar pada kaum lelaki.

Tak Terbatas Tapi Punya Batas..
            Dalam kiprahnya, perempuan juga tetap harus mawas terhadap realita yang lain bahwa tulang rusuk yang dimaksud berasal dari tulang rusuk pria. Di lain konteks, perempuan memiliki batasan-batasan tertentu dalam berkiprah.
Tetap Taat kepada Suami, Firman Allah An Nisaa’: 4.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita - wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Tetap Menutup Aurat, Annur : 31
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita - wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Tetap Menjaga Pandanganya, An Nuur 31
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya...”

        Perempuan memang harus berekspresi untuk terus mempertahankan eksistensi, namun rambu-rambu syariat harus tetap ditaati agar kebermaknaan sejalan dengan ridho Illahi. [yendy]

0 komentar: