Rabu, 30 Mei 2012

Menggali Potensi Nusantara Menuju Gemah Ripah loh Jinawi



Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman kekayaan budaya, tradisi, kekayaan hayati dan ekosistem. Namun, jarang yang mengenal, bahkan rakyat Imdonesia pun masih banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang berada di sebuah tanah yang Gemah ripah loh jinawi. 
 
Potensi Indonesia sangatlah besar baik dari sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Hampir seluruh sumber daya alam yang ada di bumi ini dimiliki oleh bumi Indonesia. Kalau di Arab, ketika minyak bumi habis, “matilah” bangsa Arab. Tapi kalau di Indonesia, minyak bumi habis, masih ada batu bara. Batu bara habis, masih ada air. Masih ada peternakan, perkebunan, perikanan, perhutanan, Belum lagi kita juga memiliki emas, perak, intan. Lalu kita juga punya potensi pariwisata yang juga cukup besar. Selain itu kita juga punya baja, aluminium dan besi. Tetapi memang, potensi alam yang demikian kaya juga jumlah SDM yang cukup besar tidak diikuti oleh kualitas SDM-nya. Menurut data dari UNDP, Human Development Index (HDI) manusia Indonesia tahun 2007-2008 hanya 0.728 berada pada urutan ke-107, satu tingkat di bawah negara Palestina (0.731). Fakta ini menjadi tantangan tersendiri untuk dapat merubah Indonesia ke arah yang lebih baik.

Jika kita ingin merubah Indonesia ke arah yang jauh lebih baik, maka kita harus, selain melakukan kerja-kerja nyata yang lain, melakukan perubahan persepsi kita dalam memandang manusia dan bangsa Indonesia. Kita harus memiliki persepsi bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar potensinya. Perubahan persepsi inilah yang akan menjadikan kita memandang positif bangsa Indonesia. Kemudian yang akan memancar dari diri kita adalah energi positif. Jika perubahan persepsi tadi dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, maka energi positif tadi akan membesar dan semakin besar, layaknya snowballing effect. Nah, ketika energi positif itu semakin membesar dan terus menjalar ke dalam setiap pori-pori tubuh bangsa Indonesia, maka yang akan kita dapatkan adalah juga hal-hal positif, yangt idak lain adalah kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan itu sendiri.
Menggali potensi Nusantara adalah sebuah pekerjaan besar yang memerlukan kesungguhan dan cita-cita besar. Juga memerlukan wawasan menembus cakrawala bepikir kita untuk kemudian diamalkan dan diperjuangkan. Hanya sekedar berbangga dengan sejarah emas, maka itu tidak akan membuahkan apa-apa karena sejarah adalah karya orang-orang terdahulu. Masa kini  adalah lembaran karya kita untuk ditulis juga dengan tinta emas untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai amal ibadah kita. 
 
Sungguh beruntung umat manusia yang tinggal di tanah yang kaya raya. Sementara sebagian manusia yang lain tinggal di tanah yang gersang dan kosong. Namun dalam pahatan catatan sejarah, kita selalu menyaksikan bahwa kesejahteraan hidup yang dambakan juga mengalir kepada manusia-manusia yang berada jauh dari tanah yang kaya raya. Sering juga terjadi ketidakadilan,  ketika manusia yang mewarisi bumi yang kaya justru tidak tersisihkan oleh mereka yang datang dari tempat jauh gersang.

Karena itulah kita menyadari, sebanyak apapun sumberdaya alam yang kita warisi tidak akan berarti jika tidak ada sumberdaya manusia yang mampu mengolahnya  dan menggunakannya untuk kebaikan bersama. Sumberdaya manusia adalah potensi kita yang sesungguhnya.

Potensi lain, bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan. Manusia tidak hanya memiliki tubuh fisik, namun beserta tubuh fisik itu ada ruhani yang menjadi penggeraknya. Ibarat komputer yang kita gunakan, ada hardware dan ada software. Ketika kita sebutkan tentang ’software’ tentu yang dimaksud bukan sekedar rekaman kode yang tersimpan dalam piringan magnetik, namun ‘kecerdasan’ yang dituliskan di dalamnya. Begitu juga dengan ruhani, tentu yang dimaksudkan bukan rangkaian fenomena kimia-listrik yang terjadi dalam otak dan syaraf kita, namun suatu ‘kesadaran’ di sebaliknya yang menggerakkannya. Itulah yang potensi manusia yang  sesungguhnya.
Ruhani manusia terdiri atas tiga unsur akal, nafsu, hati/ruh. Akal adalah satu potensi ruhani manusia yang berperanan  menerima informasi, menyimpan, mengolah dan menyajikannya kembali. Nafsu adalah potensi ruhani manusia yang menjadikan manusia memiliki dorongan kehendak berdasarkan rangsangan yang diterima oleh akal maupun hati. Hati perperanan dalam berperasaan dan menentukan apa saja perbuatan manusia sekalipun bertentangan dengan hasil kajian akal maupun dorongan nafsu. Karena itulah hati disebut raja dalam diri,  sedangkan akal adalah penasehatnya dan nafsu adalah golongan yang menjadi pembisik kepada raja. 
 
Menggali potensi Indonesia pada hakekatnya adalah menggali potensi ruhani manusia melalui tiga jalan berikut ini:
  • Membersihkan hati dari segala sifat tercela seperti sombong, ego, berbangga diri, iri dengki, tamak, kikir, penakut, dst. Kemudian mengisinya dengan sifat-sifat terpuji seperti rasa cinta kepada Tuhan dan takut kepada-Nya,  sabar, berbaik sangka, pemurah, kasih sayang kepada sesama.
  • Mendidik nafsu agar tunduk kepada perintah dan larangan Tuhan sehingga hanya menginginkan kebaikan semata.
  • Menajamkan akal dengan ilmu dan pengetahuan yang baik, bersih dan bermanfaat untuk diamalkan demi kebaikan umat manusia.
Jika ketiga jalan itu telah berhasil ditempuh, maka manusia Indonesia akan terlahir kembali sebagai manusia nan paripurna, manusia yang unggul ilmu dan amalnya, mulia akhlak dan budi pekertinya, agung budaya dan peradabannya. Dengan demikian maka tidak ada penghalang lagi bagi Tuhan untuk akan menganugerahkan kepada kita sebuah surga yang disegerakan, surga sebelum surga, sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja (baldatun thayibatun wa Rabbul ghafur). Amin.

0 komentar: