Sabtu, 25 Maret 2017

Kuliah Online Seputar Bayi (2)

2⃣ Biang keringat, alergi susu sapi dan penanganannya

Penanya: Tias Semarang, Vina Bogor, Indah Jogja, Tanpa Nama, Ermy Class A, Diana Solo, Dwi Jayanto, Riri Bekasi, Maya Malang, Niken Cipayung, Dwi Rusminiyati Kalbar, Amie, Ewi Class A


Galih Linggar:
Anak 3bln pernah diberi susu formula satu botol kemudian 3 hari tidak BAB dan di lehernya muncul biang keringat. Anak didiagnosis alergi susu sapi dan diberi salep serta obat alergi, namun tidak sembuh. Anak kemudian dibawa ke dokter kulit dan dikatakan infeksi jamur, diberi salep dan sembuh. Apakah itu alergi susu sapi?

Kejadian alergi susu sapi sekitar 2-7,5% dan reaksi alergi terhadap susu sapi masih mungkin terjadi pada 0,5% pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Gejala yang muncul dapat berupa muntah, kolik, sulit BAB, diare, buang air besar berdarah, disertai hidung tersumbat, batuk berulang, asma, urtikaria, kulit kemerahan, dan dermatitis atopik hingga bentuk reaksi alergi berat berupa reaksi anafilaktik. Alergi susu sapi didiagnosis dari riwayat timbulnya gejala, bentuk gejala, dan pemeriksaan penunjang misalnya pemeriksaan darah, uji kulit, dan uji eliminasi provokasi. Apabila ibu ingin mendapat kejelasan apakah kasus tersebut merupakan gejala alergi susu sapi, dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di daerah ibu. Anak yang alergi susu sapi akan menunjukkan gejala berulang apabila diberikan susu sapi, tes ini disebut dengan uji eliminasi provokasi. Namun saat ini ibu bisa memberikan ASI kembali, agak saying rasanya jika anak diberi sufor lagi ya?  Tes lain yang dapat dilakukan adalah patch test, skin prick test, atau pemeriksaan Ig E spesifik susu sapi dengan pemeriksaan darah.
Untuk kelainan kulit yang terjadi, dapat merupakan manifestasi dermatitis atopic akibat alergi susu sapi yang mengalami infeksi sekunder oleh jamur. Namun, ujud kelainan kulit dermatitis atopic ini banyak diagnosis bandingnya sehingga agak sulit disimpulkan jika tidak dilihat langsung. Anak dengan dermatitis atopik memiliki jumlah mikrobiota kulit baik bakteri maupun jamur yang lebih banyak dibandingkan anak normal dengan dominasi Staphylococcus aureus (bakteri) dan Malassezia (jamur). Jamur lain yang dapat ditemukan di kulit anak dengan dermatitis atopic adalah Candidaalbicans, Cryptococcus diffluens,dan Cryptococcus liquefaciens. Pemberian obat anti jamur dapat membantu penyembuhan lesi kulit anak dengan dermatitis atopic. Untuk informasi lebih lanjut, silakan buka link dibawah ini.

http://www.idai.or.id/wp-content/uploads/2014/01/konsensus-tata-laksana-alergi-susu-sapi.pdf
http://www.espghan.org/fileadmin/user_upload/guidelines_pdf/Diagnostic_Approach_and_Management_of_Cow_s_Milk.28.pdf
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1348-0421.2011.00364.x/pdf

0 komentar: