Sabtu, 25 Maret 2017

Kuliah Online Seputar Bayi (4)

4⃣ topik: MPASI dan alergi


Penanya: Shella Depok, Vika Depok, Ari Cirebon, Ummi Khalid Class A, Ratna, Mega Pasuruan, Fretty Sidoarjo, Shelly Jogja, Anne Lampung, Diana, Neno Jogja, Siti Kuswati Bekasi, Tanpa Nama


Galih Linggar:
Kasus 1
Bayi 5,5 bulan siap untuk mpasi dengan riwayat alergi seafood berupa merah-merah dikulit dan mata bengkak. Konseling menu MPASI sesuai WHO dan 4 bintang, namun seafood ditunda saat usia 9 bulan, dan waspada tanda-tanda alergi. Apakah saya sudah benar?
Kasus 2
Anak usia 6m13d, masuk pekan kedua MPASI dan tdk ada gejala alergi udang. Apakah ini sdh bisa dikatakan bahwa anak sy aman terhadap udang?
Kasus 3
Ibu alergi seafood namun kadang muncul, kadang tidak. Ayah alergi debu, langsung bentol. Anak kedua 9 bulan alergi udang dan telor ayam kampong, matanya langsung bengkak merah. Kemudian dilakukan pembatasan diet, hanya makan sayur tahu tempe daging aja.
Jika terkena debu punggung jadi merah-merah, apalagi kalau keringetan akan garuk-garuk macem parutan kelapa. Selama ini penanganannya dikasih baby cream, ga lama merahnya mendingan. Kalau hawanya lagi panas, jadwal mandinya ditambah.
Anak pertama 10 tahun alergi telur, kepalanya bisulan, banyak dan besar, ada nanah didalamnya. Anak juga alergi mie instan, malemnya langsung sesak nafas dan harus nebu. Namun bisul dan sesak nafas itu ndak selalu nongol pas makan mie dan telor.
Gejala yang timbul yang kadang muncul atau tidak itu apakah termasuk alergi? Apa yang harus dilakukan ketika alerginya kambuh? Untuk case mata bengkak, kulit memerah, gatal, bisul dan sesak nafas tadi. Apakah perlu melakukan tes lab untuk kasus alergi semacam itu? Apakah bisa sembuh sendiri ketika dewasa? Atau ada treatmentnya? Jika tidak bisa sembuh, apakah harus menghindari penyebab alergi timbul?
Kasus 4
Ibu hamil 13 w dan mungkin terkena alergi udang. Kaki dan tangan kena eksim basah, bibir mrintis/bintil kecil dan gatal. Apakah ibu hamil yang kumat alerginya akan berpengaruh pada perkembangan janin? Jika alergi kumat itu apakah kekebalan tubuh sedang turun? Apakah sebaiknya saya ke dokter kulit lagi? Tapi nanti saya bingung apakah obatnya bisa diminum ibu hamil. Jika tidak ke dokter, adakah penanganan awal?Jika ibu ada alergi, apakah otomatis anak akan punya alergi yang sama?
Pembatasan makanan pada ibu hamil dengan anak berisiko alergi tidak mengurangi risiko terjadinya penyakit alergi pada anak, namun berpengaruh buruk pada nutrisi ibu dan bayi. Pembatasan makanan pada ibu menyusui dengan anak yang beresiko alergi tidak mengurangi rsiko terjadinya penyakit alergi pada anak. Pembatasan makanan selama kehamilan dan menyusui hanya ditujukan pada ibu untuk kesehatannya sendiri.
Pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan bermanfaat untuk pencegahan penyakit alergi. Adanya komponen immunoglobulin A dan laktoferin pada ASI berperan dalam menghambat munculnya alergi. Makanan padat dapat mulai diberikan pada anak usia 4-6 bulan secara bertahap sesuai usia. Pembatasan makanan tertentu tidak diperlukan untuk pencegahan penyakit alergi.
Pajanan asap rokok, baik saat kehamilan, sesudah kelahiran, masa anak dan remaja berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit alergi.  
Bayi dan anak yang sudah menunjukkan gejala alergi makanan dapat dicari alergen atau protein yang menyebabkan alergi dengan berbagai macam tes yang tersedia dan dapat dilakukan pada bayi berusia 4 bulan ke atas. Jenis alergen yang tesedia cukup banyak yaitu alergen hirup berupa tungau, serpih kulit manusia, serpih kulit ayam, serpih kulit anjing, serpih kulit kucing, serpih kulit kuda, tepung sari rumput, tepung sari padi, tepung sari jagung, spora jamur, kecoa dan alergen makanan berupa udang, kepiting, bandeng, kakap, kuning telur, putih telur, coklat, kacang mete, kacang tanah, kedele, tomat, wortel, kerang, nanas, kopi, susu sapi, the, ayam negri, tongkol, cumi-cumi, dan gandum. tes alergi sebaiknya dilakukan pada bayi atau anak dengan kecurigaan alergi lebih dari satu macam makanan untuk menghindari malnutrisi akibat pembatasan makanan.
Apabila sudah diketahui alergennya, makanan tersebut dihindari dan dapat diperkenalkan kembali setelah periode waktu tertentu sesuai anjuran dokter (biasanya setelah 12 bulan).




Galih Linggar:
Alergi makanan dapat dibagi menjadi yang diperantarai IgE (reaksinya cepat), yang diperantarai selain IgE (reaksinya lambat), atau gabungan keduanya. Ibu yang memiliki anak dengan risiko alergi harus tetap mewaspadai apabila timbul gejala. Akan lebih baik jika ibu membuat jurnal makanan setiap harinya.
Gambaran reaksi alergi terhadap makanan dapat berupa reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa, yang dapat diawali dengan reaksi lokal berupa urtikaria dan angioedema atau langsung memburuk secara tiba-tiba dengan gejala lemah, sesak napas, serak, mulut tampak kebiruan, sulit menelan, kejang perut, diare, muntah, denyut jantung meningkat, penurunan kesadaran hingga mengakibatkan kematian dengan cepat. Segera bawa anak ke rumah sakit!
Gejala alergi yang tidak berat pun sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter karena sangat mengganggu. Ibu bisa meminta dokter untuk meresepkan obat yang dapat dikonsumsi sewaktu-waktu jika timbul gejala. Alergi makanan sebagian membaik dengan pertambahan usia, namun sebagian menetap.
Atopi pada orang tua (kecenderungan genetik untuk membentuk immunoglobulin E spesifik terhadap suatu alergen) dan saudara kandung akan mempengaruhi risiko terjadinya alergi pada anak, namun bentuk reaksinya dapat berbeda.
Ibu hamil yang menderita alergi sebaiknya memberitahukan kehamilannya pada dokter yang memeriksa sehingga bisa dipilihkan obat-obatan yang paling aman bagi ibu dan janin.

http://www.idai.or.id/downloads/Professional%20Resources/Rekomendasi%20Pencegahan%20Primer%20Alergi.pdf

0 komentar: